Analisis Stilistika dalam Sya'ir

ANALISIS STILISTIKA DALAM SYAIR سبيل الجهاد

Amalia Permata Yoana septia

(Fakultas Adab & Humaniora UIN Raden Fatah Palembang)

Email : amalia.yoana@gmail.com


Abstrak

    Dalam rangka penyelesaian ujian akhir semester atau yang biasa disingkat UAS, para mahasiswa jurusan Bahasa dan satra arab Uin Raden Fatah Palembang Angkatan 2019 di berikan tugas untuk membuat sebuah karya yang berupa sya’ir / puisi. Selain itu, hasil karya yang telah dibuat, dianalisis untuk menilai karya yang sudah mereka buat sesuai dengan ranah kajian stilistika. Adapun sya’ir yang dianalisis ini berjudul سبيل الجهاد (Jalan Perjuangan), yang mana didalamnya membedah gaya bahasa sya’ir atau puisi dari ranah stilistika yang diantaranya; sintaksis, morfologi, fonologi, semantik, dan imagery. Ini bertujuan untuk mengetahui seberapa indah puisi tersebut dan pesan apa yang hendak disampaikan penyair bagi pendengar atau pembaca. 


1.      Pendahuluan

    Dalam bahasa Arab, sastra disebut juga dengan adab, dan bentuk jamaknya adalah adaab. Secara leksikal, selain berartikan sastra, kata adab juga berarti etika (sopan santun), tata cara, filologi, kemanusiaan, kultur, dan ilmu humaniora.[1] Kata adab dalam bahasa Indonesia, tidak diserap dengan makna kata sastra, namun diartikan sebagai sopan santun, budi bahasa, kebudayaan, kemajuan dan kecerdasan.[2]

    Terkait dengan hal diatas, jenis sastra Arab terbagi menjadi dua, yakni al-adab al-  washfi (sastra drskriptif atau disebut juga dengan sastra non-imajinatif atau non-fiksi),     dan al-adab al-insya’I (sastra kreatif atau disebut juga dengan fiksi).  Berkenaan dengan karya sastra yang hendak dianalisa oleh penulis dibawah ini, maka sya’ir atau puisi termasuk kedalam jenis sastra Arab yang kedua, yakni al-adab al-insya’i.[3]

    Untuk itu penulis hendak menjelaskan sedikit mengenai syair terlebih dahulu, guna membantu para pembaca untuk mengetahui maksud dari sya’ir itu sendiri. Sya’ir berasal dari bangsa Persia dan dibawa masuk ke Nusantara bersama dengan masuknya Islam ke Indonesia. Sya’ir merupakan salah satu puisi lama, dan istilah sya’ir ini berasal dari bahasa Arab, yakni syi’ir atau syu’ur yang artinya “perasaan yang menyadari”, lalu syu’ur berkembang lagi menjadi syi’ru yang artinya puisi dalam pengetahuan umum. Adapun dalam kesusastraan Melayu, sya’ir merujuk kepada pengertian puisi secara umum. Ciri-ciri sya’ir diantaranya adalah setiap bait terdiri atas empat baris, setiap baris terdiri atas 8-14 suku kata, bersajak a-a-a-a, dan semua baris merupakan isi, serta bahasanya biasanya adalah bahasa kiasan.

    Dalam tugas kali ini, penulis memiliki maksud dan tujuan untuk menganalisis sya’ir atau puisi yang telah penulis ciptakan sendiri, hal ini bertujuan untuk melatih penulis untuk menggali keindahan dan makna dari hasil karyanya dan memberikan wawasan kepada para pembaca untuk memahami maksud dari sya’ir yang telah penulis ciptakan ini. Selain itu, kajian ini juga diharapkan agar dapat memberikan kontribusi  keilmuan akan analisa terhadap karya sastra.

 

2.      Ranah Kajian Stilistika

    Kajian stilistika bisa menggunakan dua pendekatan, yakni pendekatan tradisonal   dan pendekatan modern. Pada pendekatan tradisional, struktur bahasa dikaji dengan pola-   pola tradisional sebagaimana sastra klasik. Adapun pada pendekatan modern, pendekatan ini lebih menekankan pada kajian-kajian teori linguistik, seperti pada aspek fonologi,   morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan pada pendekatan modern, stilistika berperan dan dibantu dengan disiplin ilmu linguistik yang lain. Dan pendekatan modern inilah yang sering diterapkan oleh para linguis guna mencari maksud dari makna pada konsep teks sastra klasik maupun modern.

    Dari pendapat Nabil ‘Ali Hasanain yang telah dikutip oleh Syahbuddin Qalyubi,    bahwa uslub (stilistika) itu membahas seluruh dari kajian balaghah dan kajian linguistik. Lanjutnya lagi, Qalyubi membaginya menjadi lima ranah kajian, yakni diantaranya ;

·         Al-Mustawa al-sauti ( Ranah Fonologi)

·         Al-Mustawa al-sarfi (Ranah Morfologi)

·         Al-Mustawa an-nahwi (Ranah Sintaksis)

·         Al-Mustawa ad-dalali (Ranah Semantik)

·         Al-Mustawa at-taswiri (Ranah Imagery)

 

3.      Analisis Stilistika pada Sya’ir سبيل الجهاد

سبيل الجهاد

يا ربي

 لقد مضي الشهر الكريم

 لقد تغيرت الأيام

 الروح في بداية ذلك العصر ، نمت الرغبة في الاستمرار في أن تكون شخصًا لا يكل في العبادة

 

 لكن الإرادة تكون إرادةْ

 رجاء إستقامة ليس ما تكون النهاية

 في الوسط ضعفت مرة أخرى ، فقدت الروح مثل الاتجاه الضائعة

 

 يا رب ، حتى ينتهي الشهر ، ما زلتَ أعطيتني العمر والصحة ووقت الفراغ

 من أعماق قلبي ، أريد ارادة العقود  إعادةَ الروح كالبداية التي لم تضيع أبدًا

 لكني أشعر بأنني خاسرة دائمًا  ، فاشلة في سبيل جهادي

 كنت كمثل البرعم الذي ينمو ولا ينتج

 

  يا ربي

 لقد أصبح كره الذات عادة

 أكره كلّ الأخطاءات التي تتكرّر تكرارًا

 خيبة الأمل ما نطفأت ككون النار المشتعلة

 

 يستمر إستمرار السقوط والارتفاع تناوبا

 لا أعرف كم من الوقت سوف عائدا

 الآن رجائي رجاء ، ألا أغير الاتجاه من المسار الذي هو بأن يكون احقّ طريقا

 

Jalan Perjuangan 

Ya robb

Bulan nan suci telah berlalu.

Hari demi hari telah berganti

Semangat di awal kala itu, menumbuhkan ingin untuk terus menjadi pribadi yang tak kenal lelah dalam ibadah.


Namun ingin hanya sekedar ingin.

Harapan istiqomah ternilai tidak hingga akhir.

Di pertengahan kembali melemah, hilang semangat bagaikan hilang arah.

 

Ya Rabb, hingga bulan itu berakhir, Engkau masih memberikan usia, kesehatan, dan waktu yang luang.

Dari hati yang terdalam, sebenarnya aku ingin pulang membawa kembali semangat bagai diawal yang pernah hilang.

Namun aku merasa selalu kalah, dan gagal dalam perjuangan.

Aku bagaikan tunas yang tumbuh namun tak menghasilkan.

 

Ya robb

Membenci diri sudah menjadi kebiasaan.

Benci atas segala kesalahan yang lagi-lagi terulang.

Kekecewaan pun tak pernah  padam, bagai api yang berkobar.

 

Jatuh dan bangkit terus bergantian.

Entah sampai kapan ia berulang.

Kini aku hanya berharap, untuk tidak sampai berubah haluan dari jalan yang sebenar-benarnya jalan.

1)      Analisis Sintaksis

      Tujuan dari analisis sintaksis ini guna mengetahui diterimanya suatu kalimat. Apakah kalimat itu sudah baik, dapat dilihat dari pola-pola dan makna yang terkandung dalam kalimat tersebut.

      Pada bait pertama terdapat kata مضي, تغيرت, نمت. Ketiga kata tersebut merupakan bentuk fi’il madhi. Dan fi’il madhi adalah suatu pekerjaan yang menunjukkan masa lampau, hal tersebut menunjukkan bahwasannya tidak akan terulang lagi di masa yang akan datang. Tujuan penyair dalam mengemukakan kata tersebut sebagai bentuk penyesalan atas apa yang tidak dapat dilakukan oleh si penyair.

      Pada bait ketiga terdapat kata خاسرة yang berarti menyesal. Sifat ini berbentuk fail yang dimiliki oleh si penyair. Adapun tujuan dari penyesalan dikata tersebut karena si penyair hendak mencoba menginformasikan bahwa suatu penyesalan merupakan suatu kesempatan yang pernah ada namun tidak dapat kembali terulang. Penggambaran informasi yang penyair berikan tersebut, bermaksud untuk memacu semangat pembaca agar tidak menyia-nyiakan kesempatan atau waktu yang telah Allah berikan. 

2)      Analisis Morfologi

Tujuan dari analisis morfologi yakni untuk menyelidiki perubahan yang terjadi pada suatu kata berdasarkan klasifikasi kelasnya serta perubahan makna yang menyertainya. Secara keseluruhan dalam sya’ir ini terdapat kata ganti (dhomir), yakni dhomir رب. Kata رب menunjukkan bentuk pengaduan si penyair kepada tuhannya. Kemudian menurut penyair, ini diungkapkan agar puisi tersebut menjadi interpretasi sebagai penyesalan sesuatu.

      Adapun analisis morfologi lainnya adalah penyair lebih memilih kata pada لكن الإرادة تكون إرادةْ, ini dikarenakan jika dituliskan kalimat لكن فقط تريد, maka akan mempengaruhi syairnya atau akan mempengaruhi wazn yang lain setelah kalimat tersebut. Hal ini akan menjadikan pengkhayatan bagi si pembaca lebih bermakna.

3)   Analisis Fonologi

      Analisis fonologi bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat artikulasi dalam tataran praktis dengan mengetahui sifat-sifat artikulasi dan fisikal suatu bunyi. Pada segi Qofiyahnya, sya’ir ini memiliki qofiyah disetiap baitnya, terkecuali pada bait ketiga yang tidak ada qofiyahnya. Dibeberapa bagian, sya’ir ini terdapat akhiran yang sama, contohnya pada bait pertama yang memiliki akhiran huruf م pada kata الكريم dan الأيام yang mana vokalnya dilafalkan dengan mim yang disukunkan karena dia wakof. Cara membacanya adalah Alkariim dan Al-ayaam.

4)      Analisis Semantik

      Dalam analisis ini, memiliki tujuan untuk mengetahui dan meneliti kedudukan serta fungsi dalam sebuah sya’ir. Adapun pada sya’ir ini, terdapat perumpamaan yang ditandai dengan kata البرعم yang memiliki arti tunas. Adapun yang dimaksud tunas dari sya’ir ini menunjukkan bahwa si penyair merasa bahwa dirinya bagaikan orang yang hidup namun tidak memiliki apapun yang ia dapatkan seperti manfaat untuk dirinya sendiri atau bahkan orang lain, (merasa diri tidak berguna).

5)      Analisis At- Taswiri (Imagery)

    Analisis ini bertujuan untuk mencari unsur-unsur pembangun keindahan yang penyair gunakan dalam sya’ir yang ia buat. Dalam ranah stilistika, unsur pembangun ini adalah style atau gaya bahasa.

    Adapun pada sya’ir yang berjudul سبيل الجهاد ini terdapat kata-kata yang menggambarkan kekecewaan atau kekesalan penyair terhadap dirinya sendiri yang berulang kali lalai dan lemah untuk memerangi hawa nafsu dalam dirinya. 


Kesimpulan 

    Setelah diteliti dengan menggunakan 5 pendekatan ranah kajian stilistika, penulis menemukan beberapa gaya bahasa yang diantaranya sebagai berikut :

·     Analisis Sintaksis, contohnya seperti pada bait pertama terdapat kata مضي, تغيرت, نمت. Yang mana, tujuan penyair dalam mengemukakan kata tersebut adalah sebagai bentuk penyesalan atas apa yang tidak dapat dilakukan oleh si penyair. Dan pada bait ketiga terdapat kata خاسرة yang berarti menyesal. Tujuan dari penyesalan dikata tersebut karena si penyair hendak mencoba menginformasikan bahwa suatu penyesalan merupakan suatu kesempatan yang pernah ada namun tidak dapat kembali terulang.

·     Analisis Morfologi, Dalam sya’ir ini terdapat kata ganti (dhomir), yakni dhomir رب. Kata رب menunjukkan bentuk pengaduan si penyair kepada tuhannya. Kemudian menurut penyair, ini diungkapkan agar puisi tersebut menjadi interpretasi sebagai penyesalan sesuatu.

·      Analisis Fonologi, Pada sya’ir ini memiliki qofiyah disetiap baitnya, terkecuali pada bait ketiga yang tidak ada qofiyahnya. Dibeberapa bagian, sya’ir ini terdapat akhiran yang sama, contohnya pada bait pertama yang memiliki akhiran huruf م pada kata الكريم dan الأيام yang mana vokalnya dilafalkan dengan mim yang disukunkan karena dia wakof.

·         Analisis Semantik, Pada sya’ir ini, terdapat perumpamaan yang ditandai dengan kata البرعم yang artinya tunas. Dan maksud dari tunas dari sya’ir ini menunjukkan bahwa si penyair merasa bahwa dirinya bagaikan orang yang hidup namun tidak memiliki manfaat baik itu untuk diri sendiri atau orang lain.

·         Analisis Imagery, Pada sya’ir ini terdapat kata-kata yang menggambarkan kekecewaan atau kekesalan penyair terhadap dirinya sendiri yang berulang kali lalai dan lemah untuk memerangi hawa nafsu dalam dirinya.



[1] d Warson Munawwir, al-Munawwir, Kamus Arab Indonesia, Yogyakarta: Pesantren Krapyak, hal. 13-14.

[2] Sukron Kamil, Teori Kritik Sastra Arab (Klasik dan Modern), RajaGrafindo Persada,

Jakarta, 2012, hal. 3.

[3] Ibid, hal. 5

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al-Manfaluti - Tokoh Sastra Mesir

Mustafa Lutfi al-Manfaluti