Al-Manfaluti - Tokoh Sastra Mesir

 

Salah seorang tokoh sastra dari Mesir yang cukup terkenal juga adalah Mustafa Lutfi bin Muhammad Hasan Lutfi al-manfaluti. Beliau terlahir dari keluarga asli keturunan Mesir yang terkenal dengan kemuliaan dan ketenangan etikanya. Al-Manfaluti lahir di Madinah, salah satu kota distrik asiyut, pada 1873 M. Ia hidup di lingkungan yang islami dan bangga dengan agama islam, memperhatikan ilmu hadits dan menghafalkan sejarah nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam. Ia dibesarkan dalama keluarga yang memiliki semangat agama dan pengetahuan mendalam dibidang fiqh. Keluarganya mewarisi ilmu hukum dan syari’ah, dan pernah berada dalam kepemimpinan sufi selama hampir dua ratus tahun.[1]

            Disaat usianya  yang masih menginjak 11 tahun, ayahnya mengirimkannya ke al-Azhar agar ia dapat belajar disana. Namun disana (al-azhar) dia hanya mencapai 10 tahun saja. Kemudian ia bertemu dengan Syaikh Muhammad Abduh yang mengajar tafsir al-qur’an dan kedua kitab Abdul Khoir pada bidang ilmu balaghoh, yakni “dalail al-I’jaz dan asrar al balaghoh.” Dalam hal ini mmebuat al-Manfaluti tertarik dengan Muhammad Abduh dan ajaran-ajarannya, sehingga inilah yang menjadi sebab ia meninggalkan al-Azhar, pendidikannya, dan tokoh-tokohnya. Ia merasa tidak puas dan membuatnya merasa putus asa dengan metode pembelajaran yang diberikan di al-Azhar. Tak lama kemudian, ia mulai mengikuti pengajian-pengajian dari Syaikh Muhammad Abduh dan mendapatkan apa yang diinginkannya, hingga akhirnya, ia terpengaruh oleh ajaran-ajaran dari Syaikh Muhammad Abduh.[2]

                Aktivitas kesastrawanannya bermula sejak ia menjadi mahasiswa di al-Azhar. Kala itu, ia pernah menulis sebuah puisi yang isinya membahas mengenai caci maki terhadap Abbas, seorang penguasa kala itu. Sebab puisinya yang kontroversial itu, membuat ia akhirnya dipenjara dalam jangka waktu yang cukup lama. Di penjara ia banyak menyaksikan penderitaan yang dirasakan oleh rakyat Mesir di bawah jajahan Inggris. Sehingga dari hal inilah melahirkan rintih pilu dan getir tangis dalam jalan tulisannya.[3]

            Di usianya yang masih muda, terdapat keinginan yang al-Manfaluti rasakan untuk mempelajari kesusastraan. Sejak saat itulah, perlahan demi perlahan ia mulai menekuni ilmu-ilmu kesusastraan, baik itu puisi, prosa, maupun tata bahasa. Selain itu, ia juga memiliki kegemaran dalam membaca kumpulan puisi dari para penyair yang memiliki bahasa yang tinggi dan tulisan dari para penulis yang tentunya tidak perlu lagi diragukan kemampuannya.

            Beliau merupakan seorang yang amat mengagumi syaikh Muhammad Abduh. Meski ia tidak begitu menekuni bidang agama dan syariat, namun ia tidak pernah absen dalam menghadiri perkuliahan yang dibimbing langsung oleh Muhammad Abduh.[4] Hal ini dikarenakan tujuan utamanya adalah mengharapkan ilmu adab bukan untuk mendalami ilmu agama dan semisalnya. Ia sibuk dalam mempelajari kitab-kitab lama pada bidang ilmu adab/ sastra dan pustaka syair adab masa Abbasiyah, ia juga turut menghafalkan syair yang didapatkannya melalui tulisan-tulisan Muhammad Abduh, baik itu syair yang panjang ataupun yang pendek. Ia dengan tekun mempelajari dan mengutipnya. Tak lupa ia juga membaca tulisan-tulisan Ibnu al-Muqaffa’, al-Jahiz, Badi’uzzaman al-Hamdani dan buku Naqd al-Adab buah karya al-Amidi dan Baqilani. Dengan semua ini, ia begitu mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang jurnal yang pandai. Karena kecerdasannya dan metodenya yang sangat menarik, membuat ia mendapatkan ketenaran yang tinggi di al-Azhar. Muhammad Abduh sangat mengakui kecerdasan dari muridnya tersebut. Ia juga tak luput menerangkan kepada al-manfaluti bahwa untuk mencapai keberhasilan hidup yang paling baik adalah sastra.[5]

 



[1] Sukron Kamil, "AI-Manfaluli Wa Adabuhu" dalam Mimbar Agama dan Budaya, no 37,vol. xv/1998-1999 (Jakarta:UIN Syahid, 1998), h. 74

[2] Ibid.

[3] Pengantar redaksi, dalam kumpulan cerpen" Rinlihan Jiwa" karya Mustafa Lutfi yang diterjemahkan oleh Khalifurrahman Fath, (Yogyakarta:Navilla, 2003), h. 253

[4] As-Siba'l, AI-Adab Wa al-Nushiis, (Kairo: Dar an-Nadhah, tth), h. 321

[5] Sukron Kami!, op, cit. , h. 77

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Stilistika dalam Sya'ir

Mustafa Lutfi al-Manfaluti