Perkembangan dan Faktor-faktor kebangkitan sastra masa modern
Dalam perjalanan sejarahnya, sastra Arab tidak langsung muncul
begitu saja dalam bentuk yang sempurna. Akan tetapi sastra Arab mengalami
perkembangan secara berangsur-angsur dengan adanya berbagai inovasi dalam
setiap fase perkembangan yang dilewati. Fase perkembangan sastra Arab ini
dibagi menjadi lima fase, yakni fase jahiliyah, fase shadr al-Islam,
Abbasiyyah, Turki Usmani dan masa modern. Dan dalam setiap perkembangannya,
sastra Arab mengalami inovasi yang menjadi pembeda dengan periode-periode
lainnya.[1]
Adapun saat ini, saya hanya akan membahas mengenai sastra Arab pada era modern.
Sastra Arab modern
dimulai pada era tahun ke-19 bertepatan dengan kedatangan penduduk Prancis ke
Mesir sejak tahun 1213 H hingga tahun 1798 H. Adapun kesusastraan Arab modern
dimulai pada akhir perang dunia pertama, yakni bermula pada tahun 1920 M,
bertepatan dengan lepasnya beberapa Negara Arab dari pemerintahan kolonialisme.
Kala itu Negara yang pertama kali lepas dari pengaruh kolonial adalah Irak pada
tahun 1921, lalu diikuti oleh Mesir pada tahun 1923 yang berhasil
memproklamasikan konstitusi baru. Kemudian Lebanon pada tahun 1926 juga
berhasil mendeklarasikan diri sebagai Negara republik, dan disusul dengan Negara-negara
Arab lainnya (Muyassaroh,2012).[2]
Apabila
dibandingkan dengan masa klasik dan masa kebangkitan, pada masa penjajahan oleh
Negara-negara kolonial ternyata mewariskan banyak sesuatu dalam kesusastraan
Arab. Mulai dari tema-tema yang dibawa dalam kesusastraan lebih bervariasi dan
pada masa ini sastra Arab lebih terbuka dengan pengaruh dari luar (eksternal),
baik dari Timur ataupun Barat. Kemudian banyak karya dalam kesusastraan arab
yang diterjemahkan dalam bahasa Barat seperti Eropa dan Amerika (Situasumarga,
2002 : 113).
Dengan adanya
pengaruh penjajahan sebagaimana yang telah dijabarkan diatas, ternyata pengaruh
tersebut menimbulkan berbagai aliran sastra, yang diantaranya ; realisme,
romantisme, eksistensialisme, simbolisme, ekspresionalisme, dll. Pengaruh ini tidak
hanya dalam subyek dan isinya saja, namun juga dalam bentuk dan gayanya. Hal
ini dapat kita lihat dari berbagai genre dan gayanya.[3]
Sebagaimana yang
telah dijelaskan diatas, bahwa kesusastraan pada era modern ini lebih terbuka
dengan pengaruh eksternal, yang mana tidak hanya pada karya sastra yang
dikonsumsi Barat, namun ternyata dalam pembangunan sastra Arab modern
(kontemporer) ini lebih banyak meresepsi teori-teori sastra yang dikembangkan
oleh Negara Barat. Apabila kita urut secara kronologis, Fadhil Munawwar Manshur
mendeskripsikan bahwa teori sastra yang disampaikan oleh Barat adalah teori
sastra yang sebelumnya mereka pelajari pada masa kolonial. Para sastrawan Arab
mempelajari konsep bangunan sastra Arab dan memodifikasinya. Sehingga dari sini
lahirlah karya sastra Barat yang dipandang sebagai suatu karya yang besar oleh
sastrawan Arab, kemudian mereka lakukan resepsi (penerimaan) (Manshur, 2007 :
12).
Ketika masih dalam zaman penjajahan kolonial itu, demi menyukseskan pengaruh kesusastraan Barat dalam kesusastraan Arab, maka mereka banyak menerbitkan surat kabar, majalah, dan buku-buku yang membicarakan terkait aliran kesusastraan (Muizzudin, 2009 : 191). Dari karya-karya yang telah tersebar itulah mereka membumikan teori-teori yang mereka bangun dalam kesusastraan Arab. Banyak karya sastra yang mereka tampilkan dengan gaya baru dan tema-tema baru yang tertuang didalamnya. Dan ternyata pengaruh tersebut berhasil membuat al-Mutanabbi berupaya keras untuk keluar dari aturan lama dan menggunakan aturan baru dalam kesusastraan Arab. Selain itu ada penyair buta Suriah yang mana ia tidak lagi menuliskan pujian-pujian dalam patron pembukaan puisinya. Tema-tema yang diusung sudah banyak yang berubah dari tema-sema sebelumnya. Mereka banyak menuliskan pandangan tentang hidup dan keyakinan manusia. Sikapnya itu telah menjadikannya (penyair buta Suriah) atau dapat kita kenal dengan nama Abul Ala Al-Mujam sebagai sastrawan modern (Badawi, 1975 : 6)[4]
Perkembangan sastra Arab sangatlah berkaitan erat dengan menyebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia, yakni sekitar abad ke-7 hijriah. Sehingga sebagian besar peradaban dunia kala itu terpengaruhilah oleh peradaban Islam. Adapun mereka yang berperan dalam mengembangkan sastra Arab pada masa kejayaan Islam ini berasal dari berbagai Negara dan suku bangsa, diantanya adalah Jazirah Arab, Mesir, Romawi, Armenia, Barbar, Andalusia, dll. Meskipun bangsa dan bahasa mereka berbeda, akan tetapi mereka semua tetap bersatu didalam Islam dan Bahasa Arab. Mereka berbicara dan menuliskan karya sarta dan kajian ilmu lainnya dengan Bahasa Arab.[5]
Dalam sastra Arab modern, Mesir lah yang menjadi pembuka jalan dari berkembangnya kesusastraan Arab itu sendiri. Para sastrawan yang berasal dari Lebanon dan Suriah, mereka pindah ke Mesir untuk menyalurkan bakat mereka di Negeri tersebut. Apalagi lagi Universitas yang terkenal bernama Al-Azhar Cairo yang dibangun pada masa dinasti Fatimiyah terletak disana.[6]
Dilansir dari Republika.com, awal perkembangan sastra Arab memang bermula di Arab itu sendiri. Dengan adanya puisi kepahlawanan suku populer di Arab pada masa sebelum islam, menjadi bukti bahwasannya di sanalah titik awal dari perkembangan sastra Arab. Sastra Arab mulai berkembang disana seperti kasidah yang berisikan puisi panjang yang biasanya menceritakan kehidupan penyair atau tentang sukunya. Kisah-kisah itu disajikan dengan sangat apik dan dramatis. Dan puisi-puisi pra-Islam ini masih tetap bertahan hingga akhir abad ketujuh secara lisan.[7]
Sebelum masuknya Prancis, Mesir berada dalam kekuasaan Utsmani. Pada periode Utsmani ini di negeri Mesir hanya fokus dalam meningkatkan kekuatan militer saja sehingga sudah kita ketahui bahwa kekuatan dan luas wilayah kekuasaan Utsmani ini tidak dapat dibayangkan lagi. Namun sayang, pada periode ini mereka lupa dan menganggap remeh untuk memperhatikan kekuatan peradaban. Sebab hal ini lah yang menjadikan inovasi dan pembaharuan pada periode Utsmani berkembang sangat lambat. Lemahnya peninggalan-peninggalan Utsmani di Mesir ini sudah terlihat ketika Utsmani berhasil mengalahkan Dinasti Mamalik yang sempat berkuasa di Mesir sebelum Utsmani berhasil mengalahkan Dinasti tersebut pada tahun 1517. Namun, karena peninggalan Dinasti mamalik ini sangat kental melekat pada Mesir, terkhusus pada segi kebudayaanya, tentu saja hal ini menjadi dampak yang baik bagi Utsmani disaat mengalami stagnansi perkembangan kebudayaan di Mesir. Namun stagnansi kebudayaan yang terjadi tersebut berakhir ketika pasukan Prancis yang diketuai oleh Napoleon Bonaparte tiba di Mesir.
Dilansir dari Kompasiana.com, penjajahan Prancis berlangsung selama kurang lebih 3 tahun, dari tahun 1798 hingga 1801. Napoleon Bonaparte yang merupakan salah satu dari Jendral prancis adalah salah satu individu yang merintis ekspedisi untuk menduduki Mesir. Meski singkatnya durasi penjajahan tersebut, mayoritas sarjana Barat tetap mempertahankan klaim bahwa penjajahan atau pendudukan itu memiliki banyak efek positif bagi Mesir, termasuk usaha modernisasi Mesir. Salah satu pernyataan dari mereka ialah, bahwa Modernnya Mesir tidak dapat dipahami tanpa adanya campur tangan dari Napoleon Bonaparte (Dykstra, 1998).[8]
Setelah Mesir diambil alih kekuasaan oleh Prancis dan mengubah kemudian memperkenalkan beberapa hal kemodernan, maka perkembangan sastra mengalami perkembangan yang pesat sejauh mana tokoh-tokoh Mesir seperti Tahtawi yang mengkaji peradaban barat menerjemahkan buku-buku. [9]
Pada masa dimana kebudayaan Prancis masuk ke dunia Arab yang dibawa Napoleon, maka muncullah gerakan baru sebagai redaksi campuran antara sastra Arab dan Prancis. Gerakan ini disebut sebagai gerakan neolitik yang dipelopori oleh Al-Barudi dan Syauqi. Gerakan neolitik menanamkan kembali karakteristik tradisi dan peradaban Arab sehingga mengembalikan kepercayaan penyair untuk berkarya dan mengembangkan sastra kembali. Tokoh-tokoh pengemuka gerakan neolistik diantaranya Al-Barudi yang bernama asli Mahmud Sami Al Barudi yang merupakan seorang pemuka pertama gerakan neoklasik yang telah berhasil mempertahankan identitas puisi Arab klasik. Kemudian ada Ahmad, Syauqi, dan Hafidh Ibrahim. Karya-karya puisi Al-Barudi terkumpul dan dua antologi puisi. [10]
[1] Ibid,
hlm 20 - 24
[2] Sitti Maryam, 2019. Historisitas Aliran Neoklasik Dalam Kemitraan Arab, Al irfan, Vol.1 No.1, hlm 129 – 133
[1] https://www.kompasiana.com/isharyanto/552e25e06ea834c20d8b457d/prancis-pengaruhnya-terhadap-mesir
[1] https://www.kompasiana.com/isharyanto/552e25e06ea834c20d8b457d/prancis-pengaruhnya-terhadap-mesir
[2] Ibid,
hlm 20 - 24
[3] Sitti Maryam, 2019. Historisitas Aliran Neoklasik Dalam Kemitraan Arab, Al irfan, Vol.1 No.1, hlm 129 – 133
[1] https://roedijambi.wordpress.com/tag/sejarah-sastra-arab-modern/
[2] Males
Sutiasumarga, Kesusastraan Arab; Asal Mula dan Perkembangan, (Jakarta;
Zikrul Hakim 2002), hlm. 113.
[3] Males
Sutiasumarga, Kesusastraan Arab; Asal Mula dan Perkembangan, (Jakarta; Zikrul
Hakim 2002), hlm. 114-117)
[4] Kisno Umbar, “Perkembangan Sastra Arab Kontemporer”, (Jakarta; Syarief Hidayatullah, 2018), hlm 19.
[5] http://eprints.walisongo.ac.id/2972/3/64211013_BAB%20II.pdf
[6] Asriyah,
” PERKEMBANGAN SEJARAH SASTRA ARAB”, Jurnal Rihlah Vol. V No. 2, 2016,
Hal. 97
[7] ttps://www.republika.co.id/berita/ouoyap313/sastra-arab-dari-berbagai-zaman
[8] https://www.kompasiana.com/isharyanto/552e25e06ea834c20d8b457d/prancis-pengaruhnya-terhadap-mesir
[9] Ibid,
hlm 20 - 24
[10] Sitti
Maryam, 2019. Historisitas Aliran Neoklasik Dalam Kemitraan Arab, Al irfan,
Vol.1 No.1, hlm 129 – 133
Komentar
Posting Komentar