Puisi Masa Kebangkitan
Sebelum kedatangan Prancis, masyarakat Arab ini sangatlah mahir dalam bidang bahasa dan sastranya. Adapun karya yang diwariskan oleh bangsa Arab ini misalnya seperti syi’ir atau puisi. Dengan keistimewaan yang dimiliki oleh bangsa Arab dalam bidang bahasa dan sastra nya, menjadikan mereka memiliki peran dalam perkembangan dan penyebaran islam. Maka dari itulah Philip K. Hitti turut memberikan pernyataannya bahwa, “Keberhasilan penyebaran islam diantaranya didukung oleh kekuasaan bahasa Arab, khususnya bahasa al-qur’an.”[1] Banyaknya ilmuan dan sastrawan yang kagum dengan karya sastra sebagai warisan Arab ini membuat Phillip K. Hitti (2002) juga berpendapat bahwa “No people in the world manifest such enthusiastic admiration for literary expression as the Arabs,” yang berarti ‘tidak ada satu pun penduduk di dunia ini yang sanggup menandingi kegairahan ekspresif dalam bersastra dibanding orang Arab’.
Puisi atau syi’ir
menjadi genre sastra yang sangatlan istimewa, kuat, dan menjadi yang tertua, dibuat
sebagai suatu media kesadaran estetis bangsa Arab. Pada masyarakat Arab, tidak
ada karya sastra lainnya yang setara untuk mengarungi dasar keterkaitan dengan
jiwa, terutama pada masa pra-Islam (Umar, 1992 : 70-71). Mereka sangat terharu
ketika mendengar puisi, meski terkadang mereka tidak mengetahui makna dari
puisi tersebut. Tradisi genre puisi ini nyatanya dapat membentuk sistem
konvensi yang kuat. Pada masa pra-Islam sampai abad ke-20, sistem puisi Arab
sangat sulit untuk melepaskan diri dari konvensi yang telah berakar dalam
kebudayaan Arab.
Adapun konvensi
Arab yang dimaksud adalah : ‘adad al-bait (jumlah bait), aqsam al-bait
(bagian-bagian bait), al-‘arud : al-wahdah al-shautiyah (kesatuan bunyi), al-taf’ilah
(struktur pengulangan kesatuan bunyi dalam penggalan bait, al-bahr (metrum),
dan al-qāfiyah (struktur bunyi akhir suatu bait atau rima).
Dari masa ke masa,
akibat dari peradaban membuat sastra Arab semakin berkembang dan mulai
dipengaruhi oleh sastra Barat. Setelah beberapa abad mengalami kemunduran,
sastra Arab mulai bangkit kembali karena masuknya era modern yang disebut masa
‘Asr al-Nahdah yang mana mulai berkembang genre baru dalam sastra Arab, yakni
prosa dan drama.
Pola perpuisian
yang berusaha untuk mencoba lepas dari tradisi dan konvensi perpuisian Arab
lama dipengaruhi oleh dua faktor, yakni
faktor internal yang berupa suatu dorongan yang muncul dari kesadaran
masyarakat itu sendiri terhadap kondisi yang ada. Dan faktor eksternal berupa
suatu dorongan yang muncul karena adanya sentuhan dengan kebudayaan bangsa
lain. Contohnya seperti interaksi antara budaya Arab dan Barat.
Adanya keterkaitan
antara segala bidang kegiatan manusia dan saling mempengaruhi antara tiap
bagian masyarakat pendukung suatu kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Oleh
sebab itu, secara historis, segala bentuk usaha, tujuan, dan hasil yang telah
dicapai dalam pembaruan puisi Arab sebagai titik awal pertumbuhan sastra Arab
modern tidak bisa dipisahkan dari usaha, tujuan, dan hasil-hasil yang telah
dicapai dalam pembaruan masyarakat Arab oleh para pemikir Arab modern dan
kontemporer. Sebagai contohnya, Al-Barudi, ia mendorong dirinya untuk
mengadakan pembaruan dalam bidang sastra. Pembaruan yang dirintis al-Barudi
selanjutnya lebih dipertegas lagi oleh Khalil Mutran, melalui karya-karyanya
yang juga mendapat pengaruh dari kebudayaan Barat.[2]
[1]
Moch Yunus, “SASTRA (PUISI) SEBAGAI KEBUDAYAAN BANGSA ARAB”, https://ejournal.inzah.ac.id/index.php/humanistika/article/download/127/104,
tanggal :24-05-2021, pukul : 00,33
[2] Taufiq
A. Dardiri, Jurnal Perkembangan Puisi Arab Modern, Yogyakarta: UIN Sunan
Kalijaga
[1]
Moch Yunus, “SASTRA (PUISI) SEBAGAI KEBUDAYAAN BANGSA ARAB”, https://ejournal.inzah.ac.id/index.php/humanistika/article/download/127/104,
tanggal :24-05-2021, pukul : 00,33
[1]
Moch Yunus, “SASTRA (PUISI) SEBAGAI KEBUDAYAAN BANGSA ARAB”, https://ejournal.inzah.ac.id/index.php/humanistika/article/download/127/104,
tanggal :24-05-2021, pukul : 00,33
[2] Taufiq
A. Dardiri, Jurnal Perkembangan Puisi Arab Modern, Yogyakarta: UIN Sunan
Kalijaga
Komentar
Posting Komentar