Kemunculan aliran Neoklasik (al-Muhafizun)

    

Kemunculan aliran neoklasik ini atau yang biasa disebut dengan al-Muhafizun, awalnya menjadi reaksi atas datangnya Napoleon Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798, yang menjadi tanda masuknya kebudayaan Prancis ke dunia Arab. Yang mempelopori aliran ini adalah Mahmud Sami al-Barudi dan Ahmad Syauqi. Fenomena munculnya pemikiran dan gerakan neo-klasik ini memiliki peranan yang amat penting dalam sejarah Arab modern, sebagaimana halnya dengan gerakan yang terjadi dalam kebudayaan Barat. Apabila dalam kebudayaan Barat aliran ini berorientasi untuk menghidupkan sastra Yunani dan Latin Kuno, maka neoklasik Arab berkeinginan untuk membangkitkan kembali keindahan puisi Abbsiyah, seperti puisi Abu Tamam, Ibnu Rumi, Abu Nawas, al-Mutannabi, dan al-Buhturi. Keindahan puisi Abbsiyyah secara stilistika dikombinasikan dengan semangat baru.[1]

Gerakan yang dipelopori al-Barudi dan Syauqi ini ternyata disambut dan didukung oleh para sastrawan lain di Mesir, seperti Hafiz Ibrahim, Ismail Sobri, Ali al-Jarim, Ma’ruf al-Rasasi dam Jamil Sidqi di Irak, serta Basyarah al-Khauri di Lebanon.[2] Meski aliran ini tidak banyak melakukan inovasi pada teknik pengungkapan puisi.[3] Akan tetapu melalui tokohnya al-Barudi, ia berhasil kembali menghidupkan unsur subjektivitas dalam berpuisi yang sudah lama tradisi Arab tinggalkan saat itu.

Al-Barudi kembali membawa bentuk, style, dan musikalitas puisi Arab pada masa keemasannya. Hal ini sebagai langkah otoritik bagi penyair sezamannya untuk menjaga tradisi dan peradaban bangsa Arab, dan juga bermaksud mengembalikan kepercayaan diri penyair sezamannya agar dapat muncul dengan karyanya yang baru. Hal ini selaras dengan pernyataan dari Syauqi, bahwasannya “al-Barudi merupakan pelopor modern kita.” Ia telah menyelamatkan puisi kita dari gaya-gaya yang lemah dan tidak sehat. Lalu ia memberikan kembali kehidupan dan semangat masyarakatnya dimana ia berada. Oleh sebab itu lah, puisi ia jadikan memiliki jiwa nyata bagi emosinya, perasaan masyarakatya, dan peristiwa-peristiwa menyakitkan bagi dirinya dan mereka.[4]

Dapat dipahami dari pembahasan diatas, bahwasannya respon kaum neoklasik terhadap masuknya unsur-unsur pembaruan dalam puisi Arab adalah mereka melawan kekuatan asing (Barat), dengan mengangkat dan mengukuhkan eksistensi karakteristik budaya Arab.[5] Apabila dilihat dari perspektif etika dan pengajaran, ternyata hal ini memiliki kesamaan dengan yang dilakukan oleh para penyair neo klasik Barat ketiks mereka hendak mengukuhkan seksitensi kejayaan filsafat Yunani sebagai mainstream kehidupan mereka. Bedanya, apabila di barat penyairnya mendasarkan bangunan puisinya pada peran rasionalitas dan nilai-nilai universal pada masa itu. Adapun Al-Barudi bengunan puisinya didasari pada peran inajinasi dan nilai-nilai local. [6]

Kemunculan aliran neoklasik ini menandai dimulainya fase modern bagi sastra Arab, hal ini disebabkan karena beragamnya pengaruh dari luar sebagai hasil interaksi dengan banyak budaya dan tradisi, baik itu yang datang secara langsung karena penjajahan ataupun yang dibawa oleh para duta mesir yang tengah menimba ilmu pengetahuan di Eropa. Meski demikian, beragamnya inovasi yang diluncurkan oleh para pengusung Neo-klasik ternyata tidak sepenuhnya melepaskan mereka dari ikatan tradisi terhadap karya-karya pendahulu dalam pengubahan puisi, terutama dalam aspek metode uslub dan bahasa yang digunakan.



[1] Taufiq A. Dardiri, Perkembangan Puisi Arab Modern, Adabiyyat, Vol. X, No. 2, Desember 2011,  hal : 290

[2] Sukron Kamil, Teori Kritik Sastra Klasik dan Modern, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hal : 164

[3] Moh. Kanif Anwari, Madzhab Puisi Arab Modern Dialektika Barat-Timur, Yogyakarta: Adab Press 2012, Hal 13

[4] Ibid, hal 15

[5] Mustafa Badawi, Mukhtarat min al-6KL·UDO-Arabi al-Hadith, Beirut: Dar al-Nahar li ‘I-Nashr.

 

[6] Moh. Kanif Anwari, Madzhab Puisi Arab Modern Dialektika Barat-Timur, Yogyakarta: Adab Press 2012, hal 14

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Stilistika dalam Sya'ir

Al-Manfaluti - Tokoh Sastra Mesir

Mustafa Lutfi al-Manfaluti