Prosa Arab era modern (non sastra)
Prosa sastra arab dikenal sebagai An-Natsr Al-Adaby yang berarti
perkataan yang tidak terkait penuh dengan wazan dan qafiyah. Prosa sastra arab
telah banyak mengalami perubahan karakteristik berdasarkan zamannya yang
terbagi menjadi Masa Jahiliyah, Masa Islam, Masa Umayyah, Masa ‘Abassiyah, dan
Prosa Modern. Ciri-ciri prosa modern ini lebih memperhatikan pemikiran daripada
unsur gaya atau uslubnya, tidak banyak menggunakan kata-kata retoris seperti
saja’, tibaq, seperti pada masa-masa sebelumnya. Tema prosa di masa ini
cenderung mengarah pada tema yang tengah terjadi di masyarakat, misalnya
masalah politik, sosial, maupun agama. Perubahan gaya bahasanya adalah salah
satu hal menonjol yang dapat dilihat dari prosa modern ini. Yang awal masih
tradisional di mana kalimat yang digunakan masih panjang-panjang dan klasik
berganti menjadi kata yang serba singkat dan cepat.
Prosa pada zaman
ini dibagi menjadi dua macam, yakni prosa non imajinatif (non sastra) dan prosa
imajinatif (sastra).
1.
Prosa
non imajinatif (non sastra) yaitu:
1)
Sejarah
Sastra (Tarikh Adab) : Prosa jenis ini cenderung menjelaskan dan memperlihatkan
bagaimana perkembangan karya sastra, tokoh-tokoh yang berperan, serta ciri-ciri
dari tahap perkembangan tersebut.
2)
Kritik
Sastra (Naqd Adab) : Prosa ini berisi tentang perbincangan mengenai pemahaman,
penafsiran, penghayatan, serta penilaian terhadap karya sastra.
3)
Teori
Sastra : Prosa ini membicarakan tentang definisi-definisi tentang sastra,
unsur-unsur pembangunnya, jenis serta perkembangan sastra. Tak hanya itu, di
dalamnya juga terdapat kerangka pemikiran para pakar tentang apa itu yang
disebut dengan sastra.
2.
Prosa
imajinatif (Sastra) yaitu:
1)
Novel
(Roman, Hikayah, Riwayah, Qisshah)
Kata Novel berasal
dari bahasa Itali yang kemudian berkembang di Inggris dan Amerika Serikat.
Secara istilah, novel atau riwayah diartikan sebagai cerita yang berbentuk
prosa dalam bentuk dan ukuran yang lebih luas, memilki plot, alur, dan tema
yang kompleks, karakter yang banyak, serta suasana dan setting yang lebih
beragam. Ada tiga jenis novel, yakni novel percintaan, novel petualangan, dan
novel fantasi.
2)
Cerita
pendek (qisshah qashirah)
Qisshah merupakan
cerita berbentuk prosa yang relatif pendek yang di dalamnya terdapat gejolak
dalam jiwa pengarangnya sehingga keseluruhan cerita tersebut dapat mencapai
kesadaran pembaca yang dapat digolongkan sebagai buah sastra dari cerpen
tersebut. bisa diukur dari kelonggaran waktu membacanya, Edgar Allan Poe
mengatakan membaca berita membutuhkan waktu 30 menit sampai dua jam dengan
membaca ekstensif, pendapat ini diamini oleh kritikus sastra. Namun, Herbert
George Wells, seorang pemula dan sejarawan Inggris, mengatakan membaca cerita
pendek tidak memakan waktu lebih dari satu jam. Berita muncul pada abad ke-19
di Eropa dengan munculnya majalah dan surat kabar yang disesuaikan dengan
ketebalan majalah atau koran.
3)
Novelet
(uqushiyah)
Digambarkan
sebagai cerita biasa yang panjangnya bervariasi dan cerita pendek yang memiliki
60-100 halaman, beberapa ahli menyebut novel dengan cerita pendek yang panjang.
Dalam strukturnya, tidak perlu ada awal dan akhir untuk mencapai tujuan yang
diinginkan, seperti struktur dalam novel. Contoh Novelet di antaranya adalah
Rajulun Li Al-Bahri karya Harold Alfred Manhood dan As-Shumtu karya Leonid
Andreyev.
4)
Drama
(mashrahiyah)
Drama adalah karya
sastra yang mengungkapkan cerita melalui perantara dialog-dialog para tokohnya.
Sebuah jenis sastra dapat dikatakan sebagai drama jika memenuhi tiga hal,
yaitu:
·
Adanya
dialog antar tokoh.
·
Tidak
dinikmati melalui pembacaan, melainkan pementasan.
·
Merupakan
kejadian di atas pentas atau rekontruksi sebuah peristiwa.
Contoh naskah
drama antara lain adalah Drama Ahl Al-Kahfi dan Haqlah Syay karya Taufiq Al-Hakim dan Mahmud Taimur.
Refrensi :
Dyah Nurul Azizah, Jurnal : Karakteristik Prosa dalam Sastra Arab
Komentar
Posting Komentar