Taufiq Hakim
Taufiq Ismail
al-Hakim lahir pada 9 Oktober 1898, di Alexandria, Mesir, dari ayah Mesir dan
ibu Turki. Ayahnya, seorang perwira sipil yang kaya dan termasyhur, bekerja
sebagai hakim di pengadilan di desa al-Delnegat, di provinsi Beheira tengah.
Ibunya adalah putri seorang pensiunan perwira Turki.
Taufiq el-Hakim
adalah seorang penulis modern abad pertengahan yang populer sebagai penulis
produktif yang telah melahirkan banyak karya. Ia juga salah satu penulis yang
memiliki imajinasi yang hebat. Dunia sastra Arab selalu lekat dengan
karya-karyanya yang bagus dan para penulisnya yang legendaris. Tak hanya di Timur
Tengah, ia bahkan menjadi legenda di pentas dunia sebagai penulis yang luar
biasa.
Karya-karyanya
bahkan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk puisi, cerita
pendek, dan naskah drama. Salah satunya adalah antologi cerpen dengan judul Arinillah
yang artinya “Tunjukkan padaku Allah”. Antologi ini tidak hanya meledak sekali,
tetapi meledak beberapa kali dan dinominasikan untuk mega bestseller.
Di Indonesia,
antologi ini diterjemahkan ke dalam Perjamuan Cinta. Keistimewaan karya Taufiq
el-Hakim terletak pada sisi karya yang dihasilkannya. Karya-karyanya sarat
dengan pemikiran filosofis sekaligus imajinasi. Inilah sebabnya mengapa tidak
semua karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena beberapa karya
Taufiq el-Hakim dianggap berbahaya dan layak untuk dikonsumsi, terutama untuk
keselamatan akidah Islam.
Salah satu karya
imajinatifnya, di antaranya ia mengintegrasikan sebuah cerpen berjudul “Tahun
sejuta Masehi” dalam antologi “Dalam perjamuan cinta”. Dalam cerpen Taufiq
el-Hakim menceritakan bagaimana gambaran manusia di tahun satu juta Masehi,
yang hidup seperti di akhirat, mereka hidup selamanya karena tidak ada kematian
dalam hidup mereka. Manusia yang hidup pada tahun satu juta Masehi juga tidak
memiliki anak, karena mereka hanya terdiri dari satu jenis kelamin, baik
laki-laki maupun perempuan.
Tentu saja kabar
Taufiq el-Hakim ini merupakan hasil imajinasi yang luar biasa. Representasi
imajinasinya tentu juga dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Kehidupannya
yang dibatasi oleh ibunya dari luar, dan kehidupan yang harus dijalaninya
bersama paman, profesor dan dosen di Fakultas Teknik, serta hasratnya untuk
berpartisipasi dalam seni, seperti teater, opera, musik, dan sebagainya. Bahkan,
ia mengabaikan pendidikan formalnya untuk mendalami dunia passion-nya. Tentu
saja hal ini sangat berpengaruh terhadap imajinasi yang dituangkan ke dalam
sebagian besar karyanya yang cukup fenomenal di dunia sastra, khususnya di
Timur Tengah.
Taufiq di beri
gelar peletak drama modern Mesir, karena:
1.
Teaterbiografi
: drama yang iatulis di awal kehidupannya di man ai amengungkapkan pengalaman
dan sikap pribadiny aterhadap kehidupan lebih dari 400 drama di antaranya
adalah "al-Arees", (The Groom) dan "AmamaShibbak al- Tazaker
", (Sebelum Kantor Tiket). Drama ini lebih artistik karena didasarkan pada
pendapat pribadi Al Hakim dalam mengkritisi kehidupan.
2.
Teaterintelektual
:Gaya dramatis ini menghasilkan lakon untuk dibaca, bukan diperankan. Karena
itu, diamenolak menyebut mereka drama dan menerbitkannya di buku terpisah.
3.
Teaterobjektif
Tujuannya adalah untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat Mesir dengan
memperbaiki beberapa nilai masyarakat, mengungkap realitas kehidupan Mesir.
Refrensi :
Atiek Dina Nasechah, Abdul Basid, dan Muhammad Hasyim, Implikasi
Latar Belakang Sosial Pengarang Terhadap Representasi Imajinasi Dalam Cerpen
“Di Tahun Sejuta Masehi” Karya Taufiq El-Hakim, UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang.
Komentar
Posting Komentar