Yusuf Idris
Yusuf mulai
meluncurkan antologi cerpennya pada tahun 1950. Ia merupakan sastrawan
seangkatan dengan Najib Mahfuz dan Taufiq al-Hakim. Beberapa kali ia pernah
dinominasikan sebagai penerima hadiah novel tetapi tidak menang. Ia merasa
tidak dimenangkan karena terlalu vokal terhadap Israel. Walaupun gagal menerima
novel, ia memperoleh penghargaan dari pemerintah di bidang sastra pada tahun
1991.
Yusuf Idris
dikenal secara luas sebagai father of Arabic Short Story. Ia sering juga disebut sebagai a Renovator
and Genius of Short Story. Sebagai Bapak Cerpen Arab, ia telah menulis
antologi cerpen, yaitu Arkhasu Layal (1954) dan Al-‘Askary al-Aswad (1955). Di
samping antologi cerpen, ia juga menulis cerita lainnya, yaitu Lughat al-Ay Ay, Bait min Lahm, Qa’u al-Madinah,
An-Nadahah, Rijal wa Tsairan, Haditsah Syaraf, Akhir ad-Dunya. Tema ceritanya
sangat familiar dengan kehidupan masyarakat karena menggambarkan kehidupan
realitas masyarakat biasa, bahkan masyarakat miskin
Cerita-cerita dari
karyanya sangat kuat dan merefleksikan pengalaman pemberontakan dalam hidupnya.
Hubungannya dengan masyarakat miskin membuatnya mampu menuangkan kehidupan
mereka secara imajinatif dan sensitif. Beberapa cerpen bisa menjadi satu
skenario penuh, lainnya bahkan memiliki karakter yang sangat kuat. Selain
cerpen yang menjadi spesialisasinya, ia juga menulis novel. Berikut adalah
beberapa novel yang ia tulis: al’Aib, al-Haram, al-Baidla’, Jumhuriyat Farhat.
Di bidang drama, ia menulis naskah Malik al-Qutn, Jumhuriyah Farhat, Al-lahzah
al-Hirjah, Al-Jins ats-Tsalits, Al-Mukhatatin, Al-Bahalwan.
Di bidang drama
ini, ia melatakkan pondasi teater Mesir modern berbasis tradisi populer dan
cerita rakyat. Ia pernah sukses menggelar drama berjudul al-Farafeer, yang
menggambarkan dua karakter utama: Tuan dan seorang awam yang miskin. Beberapa karyanya diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris, seperti City of Love and Ashes, The Cheapest Nights, and other
Stories, Tales of Encounter: Three Egyptian Novellas.
Di samping menulis
karya sastra, ia juga memuat beberapa pemikirannya tentang budaya dan sosial
yang masih hangat di surat kabar al-Ahram.
Yusuf meninggal dunia pada 1 Agustus
1991 pada usia 64 tahun di London, Britania Raya dengan meninggalkan
pengaruh terhadap sejumlah sastrawan muda di Mesir dan dunia Arab pada umumnya.
Refrensi :
https://today.salamweb.com/id/bapak-cerita-pendek-arab-yusuf-idris/
Komentar
Posting Komentar