Abu Nawas - Tokoh Sastra Arab masa Abbasiyah

 

Pastinya sudah banyak diantara kita yang mengenal siapa itu Abu Nawas. Beliau bernama lengkap Abu Nuwas Al-Hasan bin Hani Al- Hakim (750-810), merupakan seorang pujangga muslim dari Arab. Dia lahir di Kota Ahvaz, Persia. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab dan juga Persia, sehingga ia dianggap sebagai salah satu penyair yang besar pada sastra Arab Klasik. Abu Nawas dikenal sebagai seorang legenda sastrawan dan penyair humoris yang diyakini hidup pada masa pemerintahan khilafah Abbasiyah (762-814 M/ 145-199H), yang mana saat itu Sultan Harun Al-Rasyid Al-Abassi lah yang memerintah. Beliau meninggal pada usia 54 tahun, bertepatan pada tahun 814 M, di Baghdad.

Abu Nawas memiliki ayah bernama Hani, seorang tentara dari Dinasti Umayyah terakhir, yakni Marwan II bin Muhammad. Ibunya bernama Golban yang berprofesi sebagai tukang tenun berkebangsaan Persia. Ketika ayahnya meninggal dunia di usia Abu Nawas yang masih menginjak 6 tahun, beliau dijual oleh ibunya kepada Sa’ad al-Yashira, seorang penjaga toko dari Yaman. Disaat Abu Nawas menginjak usia remaja, ia bekerja disebuah toko di Basrah, Irak. Kemudian ia berpindah menuju daerah kufah. Namun alasan dari kepindahannya menuju kuffah itu hingga kini masih belum diketahui apa penyebabnya. Saat kepindahannya ke daerah kuffah itulah yang menyebabkan ketampanan dan kecerdasannya semakin bertambah, sehingga menarik perhatian dari seorang penyair berambut pirang, yang dari pendapat beberapa riwayat dia adalah seorang yang kurang sopan, tidak tahu malu, dan berperangai buruk. Orang tersebut bernama Walibah bin Al-Hubab bin Al-Kufi. Lalu kemudian, Abu Nawas dibeli dan dimerdekakan oleh Al-Hubab, dan dia mengajari Abu Nawas ilmu ketuhanan (teologi), bahasa Arab, dan puisi. Setelah Abu Nawas belajar dari Al-Hubab, ia melanjutkan pembelajarannya kepada Khalaf Al-Ahmar, Hammad bin ‘Ajrad, dan Muthi’ bin Iyas. Al hasil, Abu Nawas semakin terkenal karena kejenakaan dari setiap syair yang telah diciptakannya, yakni sebuah gaya puisi yang bersebrangan dengan kebiasaan yang terjadi di gurun pasir saat itu, ditambah lagi dengan perilakunya yang selalu mabuk-mabukan (minum khamr) dan sejumlah syairnya yang mengkritik al-qur’an yang telah mengharamkan khamr.

Demikianlah keadaan ketika hidayah belum menyapa Abu Nawas. Dari hal tersebut membuat ia dikenal sebagai penyair yang kontroversial. Bahkan dari beberapa buku sejarah telah menjelaskan bahwasannya Abu Nawas adalah seorang sastrawan cabul dan kotor. Dalam keadaannya yang suka mabuk itulah membuat dia suka mengigau dan berbicara secara tak karuan. Selain itu, ia juga sering mengubah bait puisinya dengan membangga-banggakan khamr. Karena puisi-puisinya yang kontroversial itu, menyebabkan ia sering keluar masuk penjara. Namun tak hanya sampai situ, kehidupan Abu Nawas berubah total menjadi lebih islami. Dari suatu riwayat menyatakan bahwa di suatu malam pada bulan Ramadhan, dalam keadaan pusing karena mabuk, ia dikunjungi oleh seseorang yang tidak ia kenal, dan orang itu berkata :

يا علىي ! أذا لم تكن ملحا تصلح, فلا تكن ذبابة تفسد

Ternyata perkataan itu membuat diri Abu Nawas merasa terkesan. Hingga pada akhirnya ia jadi menyadari setiap kesalahannya selama ini, ia merasa bahwa dirinya bukanlah garam, namun lalat. Ia bertaubat dan segala perilaku buruknya ia tinggalkan. Ia menjadi seorang yang ahli ibadah, rajin i’tikaf di masjid, rendah hatim dan jarang berbicara. Dari perubahan dirinya ini, ia tetap menciptakan syair-syair baru, hanya saja telah berganti warna menjadi lebih mengarah ke syair-syair dzikir dan senandung do’a. Adapun karya nya yang hingga kini masih terkenal dan selalu dijadikan senandung di pesantren-pesantren dan nasyid adalah syair al-i’tiraf.[1]



[1] Hanif Fathoni, Gaya Bahasa Dalam Syair “Al-i’tiraf” Karya Abu Nuwas: Sebuah Analisis Stilistik, Vol. 7, No. 2, Desember 2012. Hal : 209-211.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Stilistika dalam Sya'ir

Al-Manfaluti - Tokoh Sastra Mesir

Mustafa Lutfi al-Manfaluti