Imru' Al- Qais - Tokoh Sastra Arab Jahiliyah
Imru’ al-Quais atau dikenal juga dengan Ameru al-Qays Ibn Hujr
Al-Kindi. Beliau adalah anak dari seorang wanita bernama Fatmah bint Rabi’ah
dan lelaki bernama Hujr, yakni raja terakhir Kindah yang sebagian besar
wilayahnya sekarang menjadi daerah kekuasaan Republik Yaman. Ibunya merupakan
saudara perempuan dari Kulib dan Al-Muhalhl, yang mana mereka adalah pemimpin
dari suku Arab yang amat mahsyur. Imru’ al-Qais juga ada nama julukan, yakni
Imru’ al-Qais Ibn Aban, yang diambil dari nama seorang teman akrab pamannya
al-Muhalhl. Imru’ al-Qais merupakan penyair arab jahili yang hidup sejak 150
tahun sebelum hijrah atau sejak abad ke-06. Ia dilahirkan pada tahun 501 dan
wafat sekitar tahun 544. Beliau juga merupakan pengarang satu muallaqat dan
antalogi pra-Islam bahasa Arab kesusastraan. Selain itu, dia memiliki kegemaran
dalam menulis puisi cinta, dan diduga sebagai pencipta Qasida atau ode bahasa
Arab klasik. [1]
Selain memiliki
nama julukan Imru’ Al-Qais Ibn Aban, beliau juga dijuluki sebagai Al-Malik
Ad-Dhalil (raja dari segala raja penyair). Dikarenakan ia berasal dari Kindah
yang sebagian besar wilayahnya dikuasai oleh Yaman, maka dari itu, beliau
dikenal sebagai penyair dari Yaman (Hadramaut). Sebagaimana pernyataan dari
Syamsuddin dan Hambali (1993 : 200), bahwasannya Imru’ Al-Qais ini merupakan
penyair yang pertama kali mengindahkan makna lantunan syair dengan memakai bahr
tiwaal, dia pula lah seorang yang pertama kalinya mensifati wanita seperti
banteng, pedang, dan telur yang terpelihara.
Lahirnya Imru’
Al-Qais sebagai anak dari seorang Raja, menjadikan ia hidup dalam keadaan yang
bergelimang harta, dengan lingkungan keluarga yang selalu berfoya-foya,
sehingga membuat ia memiliki kebiasaan buruk seperti mabuk-mabukan, bermain
cinta, dan melalaikan kewajiban dirinya sebagai putra mahkota yang seharusnya
memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, mengingat dia yang akan mewarisi
tahta kerajaan dan memimpin suatu negeri. Dikarenakan Imru’ Al-Qais memiliki
perangai yang tidak baik, seringkali ayahnya memarahinya, hingga pada akhirnya
ia dibuang dari segala kenikmatan yang ada di istana kerajaan. Selama berada
dalam masa pembuangan, beliau mengembara ke segala penjuru tanah Jazirah Arab,
sehingga dari pengembaraan yang panjang inilah membawa pengaruh kuat dalam syairnya.
Dari perjalanannya menapaki ke berbagai arah dan tujuan itulah memberikan ia
banyak pengetahuan dan pengalaman baru baginya. Ia juga turut bergabung bersama
masyarakat Badui yang juga senang bergabung dengannya dikarenakan beliau tak
hanya memiliki pendukung yang banyak, melainkan harta yang juga banyak.
Ditengah-tengah suasana
yang diwarnai dengan kegembiraan, tanpa diduga datanglah kabar kematian sang
ayah yang terbunuh ditangan Kabilah bani Asaf yang tengah memberontak terhadap
kekuasaan ayahnya. Dari berita ini Imru’ Al-Qais dituntut untuk kembali ke
Najed (kerajaan) untuk membalaskan atas kematian ayahnya. Namun, Al-Qais tidak
menyambut dengan baik panggilan itu, bahkan dengan kondisi yang bermalas-malasan
beliau megatakan : “Sejak kecil aku telah dibuang, kini semenjak dewasa aku
dibebani oleh darahnya, biar saja urusan itu, sekarang adalah waktunya untuk
bermabuk dan besok barulah untuk menuntut darahnya.” Tapi tak berselang lama,
Al-Qais berangkat juga untuk kembali menuju Nejed dengan tujuan membalas
kematian orang tuanya, dan untuk melaksanakan niatnya itu, dengan terpaksa Imru’
Al-Qais meminta uluran tangan dari para kabilah Arab yang saat itu tengah ada
di sekelilingnya. Sehingga pertempuran itu pun berlangsung dengan lama yang
pada akhirnya membuat ia menjadi terdesak, sehingga melarikan diri menuju
kerajaan Romawi Timur (Bizantium) di Turki. Dan ditengah perjalanannya itu
menjadi akhir dari kehidupannya. Ia terbunuh oleh musuhnya dan dimakamkan di Kota
Angkara Turki. Dalam tragedi kematiannya itu, diperkirakan dia dibunuh oleh
Emperor Justinian I, yakni seseorang yang mengirimkan sehelai mantel yang
ternyata telah diracuni, sejak Emperor tahu jikalau Al-Qais ini ternyata
memiliki hubungan dengan seorang putri di istananya.[2]
Setiap hasil dari
karya Al-Qais kemudian di simpan di The Divans Wilhelm Ahlwardt, yakni berupa
enam puisi Arab Kuno (London,1870), selain itu telah diterbitkan pula di Le
Diwan d’Amro’Ikats William McGuckin de Slane (Paris, 1837) secara terpisah,
juga terdapat dalam versi Jermannya, yakni di Amrilkais Friedrich Rückert der
Dichter und König (Stuttgart, 1843).
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Imru%27_al-Qais.
Diakses pada 19 Oktober 2021. Pukul 17. 47
[2] Asmaul
Husna, 2015, MAKALAH “AMERU AL-QAYS”, http://ahusna42.blogspot.com/2015/09/makalah-penyair-ameru-al-qays.html,
diakses pada 19 Oktober 2021, Pukul 18 : 27
Komentar
Posting Komentar