Mahmoud Darwis – Tokoh Sastra Plaestina

 

Salah satu tokoh sastra dari Palestina yang kali ini akan saya bahas adalah Mahmoud Darwish. Beliau lahir di desa Birwa, Palestina pada 13 Maret 1941. Ayahnya seorang muslim pemilik tanah bernama Salim, sedangkan ibunya bernama Hauriyah Darwish, yang merupakan seorang buta huruf (tidak bisa membaca). Ketika Darwish menginjak 6 tahun usianya. Kampung halamannya yang mana itu adalah tempat kelahirannya dihancurkan oleh tentara Israel. Hal ini menyebabkan ia sekeluarga harus meninggalkan kampung halamannya tersebut ke Libanon. Ditahun berikutnya Darwish beserta keluarga kembali lagi ke kampung halaman, namun ternyata kampungnya tersebut telah lenyap, sehingga Deir al-Assad lah yang menjadi tempat berikutnya utnuk mereka tinggali bersama.

            Dalam keadaan yang demikian, Mahmoud Darwish tidak putus belajar. Ia masuk ke sekolah menengah di Kafr Yasif. Di usianya yang menginjak 9 tahun, beberapa puisi pertama hasil karyanya yang berjudul Asafir bila Ajniha ia publikasikan. Lalu, pada 1970, merupakan waktu dimana ia meninggalkan Palestina untuk melanjutkan studinya di Universitas Moskow, Uni Soviet selama setahun sebelum ia hijrah ke Mesir dan Libanon.

            Disamping dirinya yang merupakan seorang penyair, ia juga merupakan seorang jurnalis dari Palestina. Pada tahun 1981, ia bekerja sebagai redaktur majalah kebudayaan dan sastra, yakni diantaranya adalah Al-fajr, Al-jadil, Shu’un Filistiniyya, dan Al-karmel. Selain itu, ia juga ambil bagian dalam ranah politik Palestina. Ia merupakan anggota Rakahm dari partai komunis Israel. Dari aktivitas politik yang selalu ia geluti, membawanya ke lingkup Palestina Liberation Organitation (PLO). Pada tahun 1973, bertepatan dengan bergabungnya ia dengan PLO, membuat ia dilarang untuk memasuki kawasan Palestina. Ini disebabkan karena ia dengan lantang dan beraninya menolak para penduduk Israel berada di kawasan palestina. Dengan terjadinya hal demikian, tentu membuat pihak Israel takut jikalau Darwish akan mempengaruhi penduduk Palestina untuk berjuang melawan Israel.[1] Hingga pada akhirnya, ditahun 1987 ia diangkat menjadi PLO Executive Committee. Pada satu tahun kemudian ia menulis manifesto sebagai deklarasi kemerdekaan bangsa Palestina. Namun, di 1993 ia mengundurkan diri dari posisinya tersebut.[2]

            Dalam pernikahan, Mahmoud Darwish sempat 2 kali menikah. Istri pertamanya bernama Rana Kabbani yang merupakan seorang penulis. Setelah mereka bercerai, di pertengahan tahun 1980, ia menikahi Hayat Henni yang merupakan seorang penerjemah asal Mesir. Dan mereka tidak memiliki anak.[3]

            Dari kemampuannya dalam menciptakan suatu karya, ia sering disebut ikon Palestina, atau juga dikenal sebagai tokoh pelopor dari puisi-puisi yang bertemakan perlawanan. Tujuan dari tema-tema yang ia tuangkan dalam puisinya tersebut adalah untuk nasib tanah airnya sendiri. Dikarenakan konflik yang tidak berkesudahan sejak terjadinya perang antara Arab-Israel, membuat para penyair Palestina meluncurkan beberapa puisi yang bertemakan perlawanan.

            Pada puisi lainnya yang menggambarkan dengan jelas perubahan jiwa seorang Mahmoud Darwish yang mana dari seorang saksi menjadi seorang korban, lalu pada akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang yang melawan adalah berjudul I Habe Witnesses the Massacae, yang dipublikasikan dalam bahasa Arab pada tahun 1977 di Beirut, dan edisi Inggrisnya yang pertama kali muncul dalam Modern Poetry of the Arab World. Di sajak akhir dari karyanya yang berbunyi “Dan bunga—bunga anyelir tumbuh, Dan kembang-kembang anyelir mekar.” Seakan menjelaskan bahwa ia sangat optimis terhadap apa yang ia harapkan mengenai perdamaian yang panjang dan menyeluruh, selain itu, kehidupan di bumi Palestina akan tumbuh dan mekar selalu.

Pada 9 Agustus 2008, yang mana bertepatan dengan usianya yang ke 67 tahun ia meninggal dunia. Dalam beberapa riwayat menjelaskan bahwasannya ia memiliki sakit jantung. Ketika tiga hari seusai operasi bedah jantung di Memorial Hermann Hospital, Houso, Texas, Amerika Serikat inilah ia dinyatakan wafat.[4]

 



[1] Joudah, Fady. Along the Border: On Mahmud Darwish, hlm. 16

[2] Arabic Poetry, www.adab.com

[3] Maya Jaggi, Poet of The Arab World, (The Guardian: 8 Juni 2002), hlm 34

[4] Maya Jaggi, hlm. 34

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Stilistika dalam Sya'ir

Al-Manfaluti - Tokoh Sastra Mesir

Mustafa Lutfi al-Manfaluti