Jembatan Ampera – Wisata Kota Palembang
Siapa yang tidak kenal dengan jembatan ampera?. Jembatan yang
terbentang panjang membelah sungai musi dan menyatukan antara ulu dan ilir dari
Kota Palembang ini, merupakan bangunan ikonik dari kota Palembang itu sendiri. Jembatan
ini menjadi tempat wisata yang sangat rugi jika dilewatkan oleh para pelancong,
karena selain kokoh, jembatan ini juga tampak indah apalagi di malam hari. Selain
bisa dijadikan sebagai tempat refreshing. Jembatan ini nyatanya juga menjadi simbol
kemahsyuran bagi perdagangan di Sumatera. Tak hanya penting untuk urusan logistik
dan transportasi, tetapi juga dapat menjadi tempat favorit untuk
hunting-hunting foto.
Dilansir dari laman travel.detik.com, salah seorang traveller
mengatakan bahwa dimalam hari jembatan ampera ini seperti memiliki daya tarik
tersendiri. Dari kejauhan kita dapat menikmati gemerlap lampu yang menghiasi
badan jembatan. Dengan lampu-lampunya yang berkilauan membuat kita betah
berlama-lama menikmati keindahannya. Ada dua kawat besar yang menjadi penyangga
sisi kiri dan kanan jembatan dan dua tiang tembok yang terletak di atas
jembatan. Baginya, dengan adanya tiang kokoh penyangga jembatan ini menambahkan
kesan indah di malam hari. Ditambah dengan gemerlapnya lampu-lampu mobil motor
yang melintasi, menjadi nilai tambah bagi keindahan jembatan ampera itu
sendiri.
Tidak hanya dimalam hari. Keindahan Jembatan Ampera juga dapat
dirasakan ketika sore hari. Menikmati sunset, sepertinya itu menjadi hal yang tidak
semestinya dilewatkan. Nyatanya, tidak hanya pelancong luar, masyarakat sekitar
pun tidak mau melewatkan keindahan sunset yang ditawarkan oleh Jembatan Ampera
tersebut. Potret dari pesona lembayung senja yang berada di ufuk barat, dimana
cahaya terang bergantikan dengan cahaya lampu-lampu dari sisi kanan dan kiri
jembatan, benar-benar dapat memberikan momen memukai bagi setiap pasang mata yang
turut menyaksikan. Pesona yang di tampilkan memang benar-benar memberikan
kehangatan yang mengalahkan desiran angin sungai musi.
1962 menjadi tahun dimana jembatan ampera ini dibangun, dengan
biayanya yang didapat dari rampasan perang Jepang. Awalnya, jembatan ini diberi
nama Jembatan Soekarno, nama presiden Indonesia kala itu. Hal ini dimaksudkan
sebagai bentuk penghormatan kepada jasa presiden Soekarno saat itu. Namun,
presiden Soekarno kurang berkenan. Ia tidak ingin bila nantinya akan
menimbulkan tendensi individu tertentu. Nah berangkat dari sanalah, jembatan
ini kemudian disamakan dengan slogan bangsa Indonesia di tahun 1960, yakni Ampera
(Amanat Penderitaan Rakyat).
Untuk struktur bangunan dari Jembatan Ampera ini, diantaranya
adalah : Jembatan Ampera dibangun dengan panjang mencapai 1,177 meter dan lebar
22 meter (bagian tengah 71,90 meter dan berat hingga 944 ton. Dilengkapi pula
dengan pembandul seberat 500 ton). Tinggi jembatan ini sekitar 11, 5 diatas
permukaan air, sedangkan tinggi menara mencapai 63 meter dari tanah. Di antara
menaranya memiliki jarak sekitar 75 meter dan berat jembatan berkisar 944 ton. Kala itu, agar kapal-kapal besar dapat
melintasi dan tiang-tiang kapal tidak tersangkut badan jembatan, seluruh bagian
jembatan baik depan, tengah, belakang, dapat diangkat dengan peralatan mekanis.
Kecepatan pengangkatannya dapat memakan waktu sekitar 10 meter per menit ditambah
dengan total waktu 30 menit yang dibutuhkan untuk mengangkat penuh jembatan. Namun,
sejak tahun 1970, aktivitas menurun naikkan jembatan sudah tidak lagi
dilakukan. Hal ini dikarenakan waktu yang dibutuhkan untuk mengangkat jembatan
dapat mengganggu arus lalu lintas. Pada tahun 1990 bandul pemberatnya dibongkar
karena khawatir dapat membahayakan.
Refrensi :
https://travel.detik.com/domestic-destination/d-5266075/melihat-keindahan-jembatan-ampera-dari-tepian-musi
https://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Ampera
https://palembang.go.id/headline/detail/jembatan-ampera
https://www.batiqa.com/id/hotels/palembang/read-article/Menikmati%20Senja%20Di%20Jembatan%20Ampera
Komentar
Posting Komentar